48 JAM DI BANGKOK – Memburu Sensasi Pasar dan Makanan Tradisional

Setiap kali jalan-jalan, saya lebih suka menjelajah ke tempat yang tidak banyak dikunjungi turis. Gang kecil dan pasar, rumah penduduk lokal atau warung lebih menarik buat saya. Begitu juga di Bangkok.

Saya mengenal kota ini dari harumnya kemangi, sentuhan rasa lengkuas dan tajamnya bumbu cabai bercampur serai. Gurihnya perpaduan beragam bumbu dalam Nam Pla, saus ikan yang sangat populer di dunia kuliner Thailand, selalu berhasil membangkitkan selera makan saya. Ketiga restoran yang saya kelola, Sarong, Mama San dan E&O menawarkan berbagai masakan yang menggambarkan kecintaan saya akan keaslian rasa hidangan khas Thailand.

 

Damnoen Saduak
Hari pertama di Bangkok saya mulai dengan berkendara sekitar satu setengah jam dari pusat kota Bangkok, menuju Damnoen Saduak. Negeri Gajah Putih ini punya banyak pasar terapung. Walaupun termasuk tempat wisata populer, tapi tempat model begini masih menarik untuk dikunjungi, terutama bagi mereka yang hobi fotografi. Damnoen Saduak merupakan pasar terapung yang paling terkenal dan terbesar. Dengan menenteng kamera, pagi-pagi sekali saya sudah sampai di sana. Hiruk pikuk penjual sayur, buah dan makanan tradisional begitu cantik menyeruak di sela-sela cahaya fajar. Harum bumbu dari berbagai penjuru pasar menahan saya lebih lama di tempat itu. Setelah mengambil beberapa foto, saya segera sibuk mencicipi jajanan kanan kiri. Menjelang siang, penjual kelapa muda mulai berseliweran di atas perahu, waktu yang pas!untuk menghilangkan dahaga.

 

Chatuchak
Setelah itu saya lanjut ke Chatuchak, pasar terbesar di Thailand. Lebih dari 10 ribu kios memadati area seluas 14 hektar ini, menjual segala jenis komoditi dari sayuran sampai pakaian, dari alat rumah tangga hingga barang antik. Warung-warung penjual makanan ikut meramaikan pasar yang sebagian besar kiosnya hanya buka hari Sabtu dan Minggu ini. Saya mulai lapar. Menyusuri gang-gang Chatuchak yang memang agak membingungkan, saya singgah di warung Saman Islam, section 16. Tempat ini hanya
menjual makanan halal. Aneka lauk terpajang siap santap. Harum mie kuah sapi andalan Fatima Shungtong pemilik kedai tersebut sangat menggoda. Potongan daging sapi segar dan empuk saya lahap dengan cepat. Mata saya mulai melirik hidangan lain yang berjejer rapi. Briyani ala Thailand pilihan saya berikutnya. Penampilan nasi berbumbu asal Persia ini sedikit berbeda dari biasanya. Beras yang dipakai bukan beras Basmati, namun beras lokal Thailand yang bundar, agak lengket dan harum. Rasanya juga tidak sekuat versi aslinya, tapi potongan ayam yang kaya bumbu, menyerap sempurna, membuat saya tidak bisa berhenti makan hingga tuntas. Puas berwisata kuliner, saya masih memutari Chatuchak. Tempat ini memang surga untuk yang gemar belanja.!Ketika hari mulai gelap, saya memutuskan untuk menengok pasar Khlong Thom sebentar sebelum beristirahat. Kios-kios di pasar yang berlokasi di China Town ini menjual ratusan jenis barang bekas maupun baru, dari mulai mainan hingga alat elektronik. Berbelanja di sini jelas tidak cukup hanya satu-dua jam.

 

Wang Lang
Di hari kedua, saya kembali bangun pagi. Kali ini, saya berniat menyaksikan perayaan pencukuran rambut biarawan Buddha. Di Wat Rakang Khositaram, calon-calon biarawan mengikuti upacara dengan khidmat. Setelah selesai, saya segera menuju pasar Wang Lang. Pasar ini juga buka sejak pagi. Orang-orang mulai beraktivitas di tepi sungai Chao Praya, sementara pedagang makanan antusias melayani pelanggan mereka. Aroma saus ikan dan daging bakar menyeruak di sela udara pagi. Saya memilih lumpia untuk sarapan kali ini. Poh Pia Sod Jao Kao Siriraj, gerai kecil di jalan Prannok, biasanya buka jam enam pagi. Lumpia yang populer sejak 30 tahun lalu ini, berisi sosis, tahu, tauge dan potongan mentimun. Daging kepiting suwir dan telur goreng ditabur diatasnya, lalu ditambah saus asam manis. Untuk memperkaya rasa, saya tambahkan cuka dan cabe rawit. Segar, gurih dan mengenyangkan. Di pasar yang sama, ada juga Namtok Sida, kedai ayam bakar yang sudah berdiri selama 40 tahun. Siang hari, Wang Lang dipenuhi kioskios penjual barang bekas yang terbilang berkualitas. Baju dan sepatu bermerek, tas, lampu antik, dan bermacam aksesoris dijual disini. Siapa tahu hari ini saya sedang beruntung!

Talat Phlu
Sebelum sore tiba, saya menyempatkan menjelajah pasar Talat Phlu, tidak jauh dari Wang Lang. Kedai-kedai penjual makanan berderet bersisian. Buka sekitar jam 6 pagi, Talat Phlu baru tutup tengah malam. Di sini saya memanjakan lidah dengan bebek panggang, nasi ketan dan pudding Thailand. Satu lagi yang tidak boleh dilewatkan, durian di pasar ini bisa jadi yang paling enak yang pernah saya coba!